TNI yang Perkasa !!!
Tentara Nasional Indonesia (TNI) merayakan hari jadi ke-68 Tahun 2013, TNI boleh berbangga dengan pembelian sejumlah alat utama sistem persenjataan terbaru. Mulai Sukhoi SU 27/30 MK, tank berat Leopard hingga kapal selam. Lembaga analisa militer Global Firepower merilis kekuatan Indonesia kini berada di urutan 15 dunia.
Monday, 28 October 2013
20:19
Unknown
Jakarta - Badan Usaha Milik Negara (BUMN) produsen kapal militer dan niaga, PT PAL (Persero), siap memproduksi kapal selam di dalam negeri mulai 2015. Kapal selam pesanan Kementerian Pertahanan RI ini merupakan bagian kerjasama dengan perusahaan kapal asal Korea Selatan, Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME).
"Tahun 2015 kan kita sudah mulai. Kita sekarang siapkan orang dan fasilitasnya," ucap Direktur Utama PAL Firmansyah kepada detikFinance seperti dikutip Selasa (8/10/2013).
Produksi kapal type DSME 209 ini dilakukan saat proses pembuatan 2 unit kapal selam di Korsel. Saat ini PAL secara bertahap sedang menugaskan para karyawan untuk belajar proses perencanaan hingga produksi kapal selam di Korsel.
"Saat kapal selam 1 dan 2 dibangun di sana (Korsel). Orang kita belajar di sana untuk mempersiapkan kapal yang ke-3. Total 206 yang belajar. Kirimnya bertahap. Ada silabus pelajarannya dan itu semua karyawan PT Pal," jelasnya.
Selain mempersiakan para ahli di Indonesia, PAL juga membangun lokasi pembuatan dan perawatan kapal selam senilai US$ 150 juta (Rp 1,5 triliun) di Surabaya, Jawa Timur.
"Workshop atau tempat membangun section dalam negeri. Investasi di dalam negeri US$ 150 juta. Termasuk untuk peralatan, kapal selam kan perlu dirawat, perlu fasilitas sendiri. Selama ini mahal perawatan ke luar negeri," sebutnya.
Ditargetkan pada tahun 2017, Indonesia sudah memiliki kapal selam asli karya putra-putri Indonesia. "Tahun 2017 Indonesia sudah punya kapal selam buatan PAL," katanya.
Monday, 21 October 2013
20:55
Unknown
Target TNI di Minimum Essential Force (MEF) I untuk mengantisipasi konflik/sengketa wilayah dengan negara tetangga di utara, seperti Kasus Ambalat, bisa dikatakan berhasil. Berhasil dalam artian mengumpulkan senjata yang mematikan dan memiliki daya gentar yang tinggi. Untuk pertempuran di garis perbatasan maupun pertempuran anti-gerilya, keberadaan Apache AH-64E Guardian, Mi-35, MBT Leopard, serta pesawat tempur Super Tucano, akan menjadi mimpi buruk bagi lawan.
Akan tetapi Apache AH-64E Guardian, Mi-35, MBT Leopard 2A4 serta Super Tucano menjadi tidak berarti, ketika ada negara lain yang melakukan serangan dengan pesawat tempur dan bomber. Keempat Alutsista itu tidak berdaya, ketika ada skadron pesawat musuh melakukan serangan kilat dan membom obyek vital di Indonesia.
Australia sempat berpikir untuk membom Jakarta dengan F-117 Nighthawk dan F/A- 18 Super Hornet, ketika pasukan Untaet yang hendak mendarat di Timor Timur pasca jejak pendapat 1999, hendak dihalangi militer Indonesia. Jika serangan itu terjadi, bombardir yang mereka lakukan terhadap obyek vital, besar kemungkinan akan mendapatkan hasil, meski beberapa fighter atau bomber mereka berhasil dirontokkan fughter Indonesia.
Dalam program MEF I, TNI terus menambah radar untuk dapat memonitor seluruh wilayah udara Indonesia. Namun apalah artinya radar, jika tidak bisa menembak.
Indonesia terlalu luas untuk sekedar memiliki satu skuadron heavy fighter SU-27/30. Apalagi pesawat-pesawat tempur negara di sekitar Indonesia akan terus semakin canggih. Australia dan Singapura sebentar lagi akan memiliki F-35. Malaysia sedang mempertimbangkan untuk membeli F/A 18 E/F Advance. Singapura juga memiliki F-15 Silent Eagle. Belum lagi pesawat-pesawat tempur stealth China seperti Chengdu J-20.
Mungkin kita masih ingat ketika F-16 Indonesia menyergap F/A-18 Hornet USAF di wilayah Bawean. Namun F-16 Indonesia tidak bisa berbuat banyak, kerena pesawat lawan memberikan gertakan yang lebih kuat. Kehadiran 24 pesawat F-16 block 25 eks US Air Guard, tidak cukup signifikan untuk meningkatkan kemampuan Angkatan Udara Indoesia. AS sendiri hanya menggunakan F-16 block 25 sebagai armada perang lapis kedua. Pasukan pemukul udara AS untuk fighter jenis F-16 berkualifikasi Block 40/42 ke atas.
Coba bayangkan akan seperti apa bila F-16 block 25 Indonesia berhadapan dengan F-35 Australia dan Singapura ?. Yang ada pesawat tersebut akan balik kanan, kembali ke markas. Lain halnya jika Indonesia telah memiliki sistem pertahanan anti-udara jarak jauh – menengah seperti S-300 family. Tidak akan mudah bagi pasukan asing untuk menerobos wilayah Indonesia dan F-16 bisa menutup lubang yang masih ditinggalkan S-300.
Praktis sekarang Indonesia hanya memiliki 1 skadron pesawat heavy fighter SU 27/30 untuk mengkover wilayah Indonesia yang demikian luas. Tentu hal itu tidak mencukupi.
Jangan pernah berpikir tidak akan ada perang, karena jika perang itu benar-benar datang, maka porak porandalah kita, karena salah mengambil asumsi. Inggris tidak pernah berpikir akan berperang dengan Argentina yang merupakan sahabat perdagangan mereka.
Namun faktanya, perang itu mendatangi Inggris. Begitu pula dengan kasus ancaman Australia maupun provikasi yang dilakukan Malaysia di Ambalat. Sebelumnya, kita tidak pernah berpikir hal itu akan dilakukan tetangga kita.
Kabar gembira muncul dari Panglima TNI Jenderal Moeldoko, Kamis 26 September 2013, bertempat di Surabaya. Panglima TNI tertarik untuk membeli SU 35, untuk memperkuat Skadron SU-27/30 yang dimiliki Indonesia saat ini.
“Syukur kali ini pesawat tempur Sukhoi sudah satu skuadron. Diharapkan akan ada lagi pembelian jenis SU-35 karena lebih canggih. Semoga perekonomian bisa semakin membaik, sehingga negara bisa membeli alutsista sebagai penguatan NKRI,” kata Moeldoko (republika.co.id/ 26/09/2013).
Jika Sukhoi Su-35 jadi dibeli pada MEF II (2015-2019), kekuatan angkatan udara Indonesia, cukup gagah untuk meladeni pesawat tempur asing yang mencoba menyerang Indonesia.
Untuk mendapatkan air superiority, Indonesia membutuhkan setidaknya tambahan 3 skuadron Sukhoi, yang tentunya keberadaannya lebih powerfull dibandingkan Helikopter Apache maupun MBT Leopard. Sukhoi akan dapat bergerak cepat untuk menutup celah yang ada di udara Indonesia ataupun untuk mengusir pesawat yang menyusup.
Jika radar Indonesia mendeteksi adanya serangan musuh, Indonesia tidak bisa menembaknya dengan Apache AH-64E ataupun MBT Leopard, melainkan angan udara. Apache dan Leopard hanya dibutuhkan Indonesia ketika musuh telah mendarat ke tanah Indonesia. Hal itu hanya bisa terjadi jika air superiority dan sistem pertahanan udara Indonesia, telah dilumpuhkan musuh.
Pasukan multinasional yang dipimpin AS, hanya melakukan serangan darat ke Irak, setelah air superiority dan sistem pertahanan anti serangan udara dilumpuhkan terlebih dahulu. Sementara dalam kasus peperangan di Serbia, AS tidak berani melakukan serangan udara/ bombardir, karena satelit mata-matanya menangkap ada beberapa baterai S-300 yang digelar oleh Serbia. Padahal usai perang diketahui sebagian besar baterai itu hanyalah dummy alias palsu.
Pada MEF II, TNI harus bisa membuat Angkatan Udara berada pada level pasukan yang disegani lawan (having a respectable Air Force), yang bertujuan untuk membuat pihak asing berpikir puluhan kali jika hendak menganggu wilayah Indonesia.
Meskipun Indonesia merasa yakin tidak ada musuh potensial saat ini, namun mengamankan wilayah udara adalah sangat penting, karena dari situlah wibawa negeri Indonesia ditegakkan. Rudal pertahanan udara, UAV serta pesawat tempur modern dibutuhkan Indonesia, walau jumlahnya masih sedikit. Efek deteren itu antara lain dimunculkan oleh adanya pesawat tempur yang modern/ up to date, bukan pesawat lawas. Sudah waktunya Indonesia merogoh sakunya di MEF II, untuk kebutuhan tersebut.
Kegunaan S-300
Jika Indonesia memiliki sistem pertahanan udara S-300, maka alutsista ini akan secara efektif menghentikan kemampuan ofensif dari musuh dan tidak memberikan mereka air superiority.
S-300 digabungkan dengan sistem anti-udara jarak pendek (meski sudah tua), akan memberikan perlindungan sangat kuat. S-300 tidak akan efektif untuk menangkal pesawat tempur atau rudal yang sudah terlalu dekat, serta terbang rendah di bawah 25 meter menelusuri relief bumi. Pesawat tempur atau rudal yang lolos ini, akan ditangani dengan baik oleh rudal/senjata anti udara jarak pendek, seperti gabungan starstreak dan Oerlikon Skyshield atau jenis lainnya, seperti Pantsir.
Gabungan S-300 dengan Pantsir atau rudal anti-udara jenis lainnya, akan menjadi duet maut, sangat sulit untuk ditembus. Untuk tidak tidak heran negeri yang memiliki ancaman militer tinggi, seperti Iran dan Suriah, mati-matian untuk mendapatkan S-300 family.
Jenis Rudal Anti-Udara S-300
S-300P (1978) – 5V55K missile, 47 km range.
S-300PS (1983) – 5V55R missile, 75 km range.
S-300PMU1 (1993) – 4N6E missile, 150 km range.
S-300PMU2 (1997) – 4N6E2 missile, 200 km range.
S-400 modifikasi dari S-300PMU2.
Tiga varian S-300 yakni: S-300V, S-300P dan S-300F:
S-300V. Kode V yang berarti Voyska ditujukan untuk pasukan darat. Perlindungan udara untuk pasukan darat ini meliputi: anti rudal balistik, anti rudal jelajah serta pesawat tempur. S-300V diangkut oleh MT-T transporters (tracked) dengan amunisi rudal 9M83 “GLADIATOR” berdaya jangkau maksimum 75 km. Sementara 9M82 “GIANT” (SA-12B Giant) dapat mencapai target hingga 100 km dan mampu menyasar pesawat/rudal di ketinggian (altitude) 32 km (100,000 ft). S-300V lebih ditujukan untuk menangkis serangan Anti-Ballistic Missile.
Sementara S-300P merupakan versi orsinil dari sistem pertahanan udara S-300. Huruf P berarti PVO-Strany (Sistem pertahanann udara negara). Awalnya S-300P kesulitan untuk menjejak target di bawah 500 meter dari permukaan tanah. Namun Rusia terus mengembangkan sistem Track Via Missile-nya (TVM) sehingga kini mampu menjejak target di ketingian 25 meter.
S-300PT-1 dan S-300PT-1A (SA-10b/c) merupakan versi import maupun kebutuhan dalam negeri Rusia, hasil pengembangan dari sistem S300PT. Sistem rudal ini menggunakan rudal 5V55KD dengan jangkauan 75 km. Pada tahun 1985 diperkenalkan S-300PS/S-300PM dengan rudal baru 5V55SR dengan jangkauan 90km dan dilengkapi dengan terminal pemandu semi-active radar homing (SARH).
Tahun 1992 diperkenalkan S-300PMU untuk versi eksport dengan feature upgrade rudal 5V55U yang bisa menjejak obyek yang lebih kecil serta memiliki jangkauan hinga 150km.
Jenis peluncur maupunjenis rudal terus berkembang. Ukuran dan hulu ledak yang lebih kecil namun memilki janghkauan yang lebih jauh. S-300PMU-2 misalnya dengan mengusung rudal rudal 48N6E2 mampu menggasak sasaran hingga jarak 195km. Sementara rudal 9M96E2 mampu menggasak sasaran yang sangat dekat hingga jauh, yakni dari jarak 1 hingga 120 km.
Adapun S-300F yang berarti Flot (fleet) diperkenalkan tahun 1984 untuk pertahanan anti-udara kapal perang yang mengacu pada Sistem S-300P. Dilengkapi rudal baru 5V55RM, jangkauan sistem S-300F bertambah menjadi 7-90 km dengan kecepatan 4 mach dan mampu menghajar target di ketinggian 25 -25.000 meter (100-82,000 ft). S-300FM adalah versi yang lebih baru dan diperkenalkan pada tahun 1990. Kecepatan rudal meningkat pesat menjadi 6 hingga 8,5 Mach dengan hulu ledak 150 kg dan mampu menyasar target 5–150 km (3–93 mi) di altitude 10m-27 km (33–88500 ft). Setelah dilengkapi dengan ultimate track-via-missile guidance method, rudal ini dapat menyergap short-range ballistic missiles.
Katakanlah anda memiliki dua Pangkalan Udara yang satu dilindungi oleh S-300 dan satu lagi dilindungi AAA Gun. Kerusakan keduanya memiliki nilai militer yang sama. Kira-kira Pangkalan Udara mana yang akan dipilih musuh untuk dihancurkan ?. Tentunya yang dilengkapi pertahanan udara AAA Gun. Semua militer akan mencari target yang lebih mudah. Jika S-300 harus diserang oleh musuh, tentu ada berbagai cara yang mereka lakukan.
S-300 bisa dilumpuhkan, namun membutuhkan usaha yang besar. Membutuhkan kordinasi yang tinggi, teknologi jamming- decoy, taktik dan skill. Sistem pertahanan S-300 memiliki keterbatasan persediaan rudal yang akan ditembakkan. Ketika persediaan itu sudah habis dilepas, tentu akan mudah bagi musuh untuk menghancurkannya.
Satu contoh yang bagus, NATO pada tahun 2011 mengujicoba SEAD fighter mereka (Supression of Enemy Air Defenses) dengan Early Warning Aircraft terhadap sebuah sistem pertahanan udara S-300 Slovakia. Usai ujicoba hanya pesawat Rafale yang mampu keluar dari latihan itu tanpa tertembak. Pesawat lain rontok disikat S-300. Untuk itulah mengapa NATO dan Israel sangat resah dengan Suriah yang diduga telah diperkuat oleh Rusia dengan S-300. Rusia terus memodernisasi sistem pertahanan udara Suriah.
Missile S-300PMU-2 merupakan tantangan berat bagi seluruh pesawat tempur generasi 4 atau 4++ dalam jarak 150 km. Kecepatan dari rudal 48N6E2 S-300PMU-2 sekitar 3 km/ detik atau 6 hingga 8 kecepatan suara/ Mach. Bayangkan saja anda seorang pilot F-16 yang terbang dengan kecepatan 1,8 Mach dihampiri oleh rudal kecepatan 6 Mach.
Katakanlah negara kita memiliki dua divisi S-300PMU-2 dengan rudal 48N62E yang setiap divisinya dilengkapi 8 hingga 12 unit S-300PMU-2. Masing-masing unit S-300PMU-2 dilengkapi 4 rudal siap tembak. Artinya ada 16 hingga 18 S-300PMU-2 dikalikan (x) 4 rudal, yakni 64 hingga 96 rudal ditembakkan dalam waktu 10 menit. Harga 64 hingga 94 pesawat tempur itu sekitar 10 hingga 20 miliar dollar. Kira-kira bagaimana perasaan atau nyali pihak asing yang hendak mencoba-coba atau mengganggu wilayah udara Indonesia?. Pada MEF II, kita membutuhkan a respectable Air Force
20:50
Unknown
Jakarta - Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jendral (TNI) Budiman menegaskan, main battle tank (MBT) Leopard 2A4 milik Indonesia lebih unggul daripada milik Singapura. Kendaraan berbobot 60 ton tersebut jauh perkasa dari sisi sistem persenjataan. "Leopard-nya sama merupakan generasi ketiga, tapi seri kita merupakan yang paling baru. Ini Leopard 2A4 seri Revolution yang lebih mumpuni dalam persenjataan," tegas dia saat inspeksi pameran alutsista TNI AD di Kawasan Monas, Jakarta Pusat, Jumat (4/10).
Budiman menambahkan, alutsista buatan Jerman milik Indonesia menggunakan sistem elektronik dan unggul dalam akurasi bidikan laras senjata. Sedangkan Leopard Singapura menggunakan sistem hidrolik dan memiliki sensor fire control. TNI AD menggandeng mitra strategis yaitu Rheinmetall dari Jerman yang memiliki keahlian dalam persenjataan. Sedangkan, Singapura bersama KMW memodifikasi Leopard untuk unggul dalam body kendaraan lapis baja roda rantai. "Kita gandeng perusahaan Jerman juga, Rheinmetall, perusahaan ini punya pengalaman panjang masalah senjata. Ini yang jadikan MBT kita lebih baik dari Singapura," papar jendral bintang empat tersebut.
Orang nomer satu di TNI AD ini memastikan tidak akan melupakan industri pertahanan dalam negeri. Sejumlah alutsista di buat oleh putra putri Indonesia, termasuk APC dan teknologi radar yang dibuat di Bandung, Jawa Barat. Pengembangan Leopard dilakukan di dalam negeri dengan mengandalkan kemampuan lokal. Ini akan jadi acuan bagi teknologi tank kelas berat yang belum di miliki Indonesia hingga saat ini. "Kita sudah gandeng LIPI, Ristek, Pindad dan berbagai instansi yang bisa bersinergi untuk mengembangkan MBT, setelah kita punya panser Anoa dan lainnya," tegas Budiman. Hingga tahun 2017 sebanyak 61 unit, tank Leopard 2A4, evolusion akan melengkapi kekuatan pertahanan Indonesia secara bertahap. Untuk pengadaan ini pemerintah harus merogoh kocek APBN sebesar US$ 280 juta.
20:49
Unknown
Warga Jakarta Naik Panser AnoaTentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) menggelar pameran alat utama sistem persenjataan di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Sabtu 5 Oktober 2013. Sebanyak 326 peralatan tempur dengan 164 jenis dipamerkan.
Dari sekian banyak alutsista tersebut, TNI AD juga memamerkan produk buatan dalam negeri, yaitu Tank Anoa A buatan PT Pindad. Masyarakat atau pengunjung pun tak ketinggalan turut mencoba tank tersebut untuk memutari Monas. Kebetulan, panitia pameran menyediakan sejumlah tank untuk dipakai para pengunjung (umum).
Menurut seorang petugas yang menjaga stan, Rusli, Anoa berfungsi sebagai alat tembak dalam sebuah pertempuran. Selain itu, Anoa juga dapat digunakan sebagai alat pengangkut prajurit. "Ini dilapisi baja. Jadi kuat dan terlindungi," kata Rusli.
Rusli mengatakan tank Anoa dapat menampung 10 sampai dengan 13 orang prajurit. Dilengkapi dengan alat tembak, alat tempur itu lebih terlihat gesit. "Kelebihan bisa mendekati sasaran sehingga memperkuat daya tembakan," ujarnya.
Selain Anoa, TNI AD juga memamerkan alutsista buatan luar negeri. Kemudian, berbagai alat hasil modifikasi, rekayasa dan pengembangan sendiri.
Untuk tank terbaru dari Jerman, Leopard, belum tampak karena barangnya masih digunakan untuk acara ulang tahun di Mabes TNI, Jakarta. Rencananya, sore ini akan diangkut ke Monas. Dan besok pagi sudah dapat diperlihatkan ke masyarakat luas.
Berikut adalah daftar peralatan yang dipamerkan TNI AD selama 5 hari, dari 3-7 Oktober 2013:
- Infanteri: 99 alat, 15 macam
- Kavaleri: 28 peralatan tempur, 8 ekor kuda, 21 macam
- Arhanud (Artileri Pertahanan Udara): 27 peralatan tempur, 8 ekor kuda, 20 macam
- Penerbangan AD: 5 Helly
- Zeni: 8 macam alat
- Perhubungan: 15 macam
- Kesehatan: 8 macam
- Perbekalan dan angkutan: 8 macam
- Peralatan: 18 macam
- Kopassus: 8 macam
- Ditopad: 8 macam
- Dislitbang: 12 macam
- Akmil: 18 macam
20:47
Unknown
Tentara Nasional Indonesia (TNI) merayakan hari jadi ke-68 hari ini. Tahun 2013, TNI boleh berbangga dengan pembelian sejumlah alat utama sistem persenjataan terbaru. Mulai Sukhoi SU 27/30 MK, tank berat Leopard hingga kapal selam.
Lembaga analisa militer Global Firepower merilis kekuatan Indonesia kini berada di urutan 15 dunia sejak Juni 2013. Sebelumnya, tahun 2011 lalu Indonesia masih berada di peringkat 18 besar dunia.
Untuk kawasan Asia Pasifik, Indonesia tercatat sebagai negara terkuat nomor 7. Jauh di atas Malaysia (33) dan Singapura (47). Prestasi yang cukup membanggakan setelah Indonesia terpuruk selepas tahun 1960an.
TNI awalnya bernama Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Berdiri tanggal 5 Oktober 1945, dan jatuh bangun mengawal kedaulatan republik. TNI terbentuk dari rakyat, bukan tentara bayaran yang hanya mencari gaji.
Menurut Presiden Soekarno, banyak cerita mengharukan yang lucu dan menarik di awal pendirian TNI. merdeka.com mencoba merangkumnya dari biografi Soekarno yang ditulis Cindy Adams.
1. Bawa granat langsung jadi perwira
Menjadi perwira TNI kini sangat sulit. Kalau bukan lulusan Akademi Militer maka harus sarjana yang kemudian mengikuti sekolah perwira. Seleksinya berat dan selektif.
Saat TKR terbentuk tanggal 5 Oktober 1945, sangat mudah menjadi perwira. Cukup bawa granat rampasan dan mendaftar. Tak perlu tes ini dan itu, langsung diberi pangkat letnan.
"Seorang sukarelawan yang mendaftarkan diri dengan membawa 10 anak buah, diberi pangkat kopral. Bila memimpin 20 orang, ia menjadi sersan. Tetapi bila membawa senapan dan granat selundupan, dia menjadi perwira," kata Soekarno.
2. Seragam belang-belang
Kini TNI punya seragam loreng yang bagus dan sama model maupun motifnya. Helm baja lengkap dengan sepatu boot berkualitas untuk bertempur.
Tahun 1945, seragam TNI tak sama. Jangankan membuat seragam yang sama, punya baju dan celana layak pakai saja sudah mewah.
"Sebagian tentara memakai uniform rampasan dari Belanda. Sebagian rampasan Australia dan ada juga yang melucuti tentara Jepang lengkap dengan sepatu boot dan pedang panjang," kata Soekarno.
Uniknya saat itu bisa saja komandan hanya memakai pakaian usang dan celana pendek lusuh, sementara prajuritnya berpakaian lebih bagus. Tergantung siapa yang merampas duluan. Banyak juga yang ukurannya tak sesuai, sehingga kebesaran.
Tapi tak ada yang peduli saat itu. Mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia sejuta kali lebih penting daripada seragam mentereng.
3. Satu senjata untuk 5 orang
Tentara Keamanan Rakyat dibentuk dari nol. Tanpa dukungan dana, maupun peralatan. Kondisi tentara Indonesia sangat memprihatinkan.
"Yang dipakai sebagai ukuran vital, setiap lima orang prajurit memiliki satu pucuk senjata," kata Soekarno.
Saat itu TKR mengandalkan senjata rampasan dari Jepang atau sisa Belanda yang sudah tua. Jangan heran jika melihat barisan-barisan tentara hanya menyandang bambu runcing atau samurai.
"Kami mempunyai prajurit tanpa senjata, tanpa seragam dan tanpa gaji, tetapi tentara kami terus berkembang," kata Soekarno haru.
4. 1,5 Jam naik pangkat jadi mayor
Seperti kebiasaan di hampir semua negara, seorang presiden selalu mempunyai ajudan perwira militer. Seorang pejuang sipil lalu diangkat jadi ajudan Presiden Soekarno dan diberi pangkat letnan. Tentu saja pemuda itu sangat gembira karena sebelumnya tak punya pangkat apa-apa.
Tapi penasihat Soekarno kemudian protes. "Ini tidak boleh terjadi. Ratu Juliana dari Negara Belanda yang hanya memimpin 10 juta orang memiliki ajudan seorang kolonel. Bagaimana orang nanti orang memandang Soekarno, presiden yang memerintah lebih dari 70 orang, memiliki ajudan yang hanya berpangkat letnan," katanya.
Soekarno berpikir. "Betul juga."
Soekarno lalu memanggil letnan ajudannya itu. "Sudah berapa lama kau jadi letnan?"
Si ajudan menjawab "1,5 jam, Pak!" katanya sambil menghormat.
"Nah, karena kita merupakan negara baru yang tumbuh cepat. Mulai sore ini kau menjadi mayor," kata Soekarno.
5. Asal berani naik pesawat, jadi pilot
Jika kini TNI AU sudah memiliki F-16, Sukhoi, T-50i dan aneka pesawat lain, maka tahun 1945 kondisinya bagai bumi dan langit. Saat itu Angkatan Udara hanya punya beberapa pesawat bekas Jepang yang sebenarnya tak layak terbang.
Saat itu jumlah orang Indonesia yang bisa menerbangkan pesawat hanya beberapa orang. Sebagian malah takut terbang. Maka tes masuk AU pun tentu tak sesulit sekarang.
"Satu-satunya pertanyaan yang diajukan adalah, "Apakah anda, berani naik pesawat terbang kita? Bila jawabannya "ya", maka dia diterima di Angkatan Udara," kenang Soekarno.
Nasib Angkatan laut juga tak kalah miris. Saat itu hanya ada beberapa kapal kayu. Tak seimbang dengan Indonesia yang lautnya sangat luas
20:45
Unknown
Disaat negara ini sedang ditimpa krisis penegakan hukum yang parah akibat ditangkapnya Akil Mochtar-Ketua Mahkamah Konstitusi yang diduga menerima suap untuk memenangkan orang-orang tertentu di sengketa Pilkada,ada sebuah institusi di Indonesia yang masih dicintai oleh rakyat Indonesia,secara khusus dalam memandang profesionalitas tanggung jawabnya sebagai penjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Walaupun banyak isu yang menerpa terkait bisnis ilegal dan kekayaan beberapa Jenderal TNI,bahkan Panglima TNI Jenderal Moeldoko pun tak surut dalam sorotan kekayaan yang dimilikinya pada waktu dirinya menjalani “fit & proper test” di DPR RI,yang mana menjadi perbincangan hangat di media dan khalayak ramai,namun institusi TNI masih memiliki sejumlah besar anggota yang tergabung dalam pasukan-pasukan elit 3 angkatan TNI dengan profesionalitas yang tinggi,semangat korsa dan kecintaan mereka terhadap NKRI serta Merah Putih yang terus dikumandangkan dalam benak sanubari para anggota TNI.
Pengkhianatan adalah kata yang “haram” bagi seluruh anggota TNI,terlebih dalam penegakan keutuhan NKRI,sebab darah yang mengalir di tubuh mereka adalah “Merah Putih” ; Penjabaran kata “pengkhianatan” di dalam masa damai sebaiknya bukan cuman dalam hal berperang atau melawan musuh,tetapi juga dalam hal integritas mereka di segala fungsi sosial,ekonomi,budaya dan politik.
Terlihat anggota Kopassus bekerjasama dengan Pemprov DKI Jakarta membersihkan kali Ciliwung,ini merupakan bukti integritas anggota TNI dalam menjalankan fungsi sosialnya ; Karya Bakti Sosial yang seringkali dilakukan oleh para anggota TNI memberikan nilai sosial bagi kemanunggalan TNI dengan rakyat. Mungkin TNI hanya satu-satunya institusi di negeri ini yang mempunyai sebuah “tarian khas” mirip poco-poco yang biasa ditarikan pada setiap acara kebersamaan para anggota TNI,elegan dan menjunjung budaya asli negeri Indonesia,juga sangat sedap dipandang karena irama dan gerak langkahnya teratur rapi.
Yang belum terlihat menonjol di era sekarang adalah TNI dalam ikut menjalankan fungsi ekonomi dan politik. Ada rasa malu-malu yang menjangkiti para anggota TNI setiap bicara “ekonomi dan politik” ; Mungkin hal ini karena faktor masa lalu di era ORBA yang menyebabkan para anggota TNI terkesan hanya “menerima jatah” saja untuk kedua fungsi tersebut. Biasanya oleh Pangti ABRI waktu itu,Soeharto banyak memberikan kesempatan para Jenderal TNI yang sudah pensiun diberikan posisi sebagai Komisaris Perusahaan Negara atau sebagai Gubernur/Menteri/Anggota DPR-MPR dari fraksi ABRI. Berbeda dengan “pecahan” ABRI,yaitu institusi POLRI,dimana para anggotanya cenderung agresif didalam mengurus kedua fungsi ini,terutama fungsi ekonomi hingga menyebabkan beberapa Jenderalnya menjadi pesakitan kasus korupsi dan rekening gendut.
Fungsi ekonomi sebenarnya bisa dibangun oleh para anggota TNI dengan peningkatan “skill” para isteri atau pasangan anggota TNI,dimana mereka bisa belajar mandiri secara ekonomi dengan terjun ke bidang-bidang bisnis yang memang sesuai dengan keahlian mereka. Banyak kegiatan sentra ekonomi kerakyatan yang masih bisa disentuh untuk menjadi besar. Biasanya mereka bergerak secara berkelompok,seperti mendirikan Koperasi ; Namun secara individual pun bisa dilakukan bila para isteri anggota TNI membangun “skill” yang dimiliki. Dengan demikian profesionalitas para anggota TNI masih tetap terjaga ketika dirinya masih dinas aktif sebagai anggota TNI.
Demikian pula dengan fungsi politik,kesan malu-malu untuk terlibat di dunia politik nampak ketika konsep “Dwi Tunggal” era Orba dipersoalkan pada era Reformasi ini. Akibatnya sampai sekarang anggota TNI pun masih belum boleh ikut sebagai pesera Pemilu. Sebenarnya fungsi politik anggota TNI bisa dibangun bilamana Pimpinan Tertinggi negara ini atau Presiden tidak terlibat dalam urusan partai politik yang mengusungnya. Entah karena kesalahan sistem atau faktor pribadi yang tidak mau melepaskan diri dari partai politik atau keinginan “diam-diam” menyeret anggota TNI untuk mengajak sanak saudaranya “memilih” partai politik yang dipimpinnya,maka Presiden atau Kepala Negara RI ini tetap saja “bercokol” sebagai Ketua Dewan Pembina,Ketua Umum,Ketua Majelis Kehormatan Partai Politik yang dipimpinnya. Oleh karena itu,akhirnya fungsi Politik tidak bisa berjalan dengan baik di kehidupan para anggota TNI.
Oleh karena itu,walau badai menerjang,isu bertiup….TNI tetap merupakan institusi yang masih menjaga profesionalitas dan masih dipercaya oleh rakyat,dibandingkan institusi lain yang ada di Republik ini. Kemerosotan moral para politisi dan penegak hukum,masih bisa di tertutupi dengan langkah tegak dan kesederhanaan para prajurit TNI,entah bila para prajurit TNI punya harta seperti para politisi dan penegak hukum di negeri ini. Mungkin rakyat pun akan ramai-ramai menjadi pengkhianat dan tidak lagi punya integritas terhadap NKRI….!
Dirgahayau TNI ke-68 tahun….!
20:43
Unknown
Minggu pagi, 19 Desember 1948, suasana Yogyakarta di sepanjang jalan protokol masih lengang. Hanya beberapa warga dan penduduk sekitar yang berlalu lalang untuk berdagang menuju Pasar Beringharjo.
Bagi anggota kompi I dan II dari Markas Besar Polisi Tentara (MBPT) yang bertugas mengawal Jenderal Soedirman, hari minggu menjadi hari pelepas penat. Lantaran hari tersebut merupakan pelaksanaan gencatan senjata antara Pasukan RI dan Belanda.
"Saat itu, anggota kompi beristirahat di rumah dan beberapa Jalan Bintaran Timur Nomor 8 yang menjadi tempat tinggal Jenderal Soedirman di Yogyakarta. Sementara itu, Pak Dirman sedang berbaring lemah di tempat tidur ditemani Bu Dirman, serta orang-orang terdekatnya," ujar mantan Ajudan II Panglima Besar Jenderal Soedirman, Mayor (Purn) Pendeta Abu Arifin, saat ditemui Sabtu (5/10).
Kondisi Jenderal Soedirman yang lemah, membuatnya harus mendapat perawatan intensif oleh dokter pribadinya Mayor Suwondo. Namun, kedamaian pagi itu di Yogyakarta dikagetkan dengan melintasnya satu pesawat bomber dan pemburu 'cocor merah' milik pasukan Belanda yang menembaki beberapa bangunan secara membabi buta.
"Saat itu ada kabar kalau pasukan TNI sedang melakukan latihan perang-perangan di lapangan udara Maguwo sekitar pukul 06.00, tetapi ternyata malah Belanda menerjunkan pasukannya di Maguwo. Setelah itu pesawat perang Belanda melintas dan menembak membabi buta hingga menyebabkan pabrik peniti, yang dikira markas tentara, di Lempuyangan hancur," tutur Abu.
Kondisi tersebut kemudian dilaporkan komandan Kompi I Kapten Cokropranolo yang melaporkan adanya serangan di Belanda. Usai mendapat laporan tersebut, membuat Soedirman berusaha bangkit. "Padahal saat itu Pak Dirman baru saja selesai operasi yang dilakukan Profesor Asikin di Rumah Sakit Panti Winoto yang berada di dalam keraton," ujarnya.
Keadaan genting itu, membuat Jenderal Soedirman mengambil langkah untuk menentukan keputusan strategis. Abu menuturkan, akhirnya saat itu Jenderal Soedirman mengutus ajudan I Suparjo Rustam untuk melaporkannya ke Istana presiden yang berada kurang lebih 1 kilometer dari rumah Jenderal Soedirman.
"Tetapi jarak yang ditempuh Parjo (Suparjo Rustam) saat itu seolah-olah sangat jauh. Karena dalam perjalanan menuju Istana, Parjo sempat mendapat tembakan berasal dari udara yang dimuntahkan pesawat Belanda," ungkap Abu.
Namun, saat sampai, Suparjo Rustam justru tidak bisa masuk ke dalam Istana. Alasan saat itu, jelas Abu, karena ada beberapa pemberlakuan saat kondisi genting di kalangan tentara.
"Saat keadaan genting, kami diwajibkan menjalankan aturan untuk saling mencurigai satu dengan yang lain untuk menghindari kondisi yang tidak diinginkan," jelasnya.
Tidak mendapat kabar dari Supardjo Rustam, akhirnya Jenderal Soedirman memutuskan untuk menemui Presiden Soekarno di Istana. Padahal, jelas Abu, saat itu Soedirman dilarang untuk bepergian. Saat itu disiapkan dua mobil, yakni satu sedan hitam dan satu mobil bak terbuka yang diisi pasukan.
"Setelah itu, Pak Dirman menaiki mobil sedan hitam bersama supirnya, Dirman, yang namanya memang sama dengan beliau. Kemudian komandan pasukan pengawal Kompi I Kapten Cokropranolo berada di sisi kiri supir dan Pak Dirman bersama Mayor Suwondo di belakang," kata Abu yang saat itu berpangkat letnan dua.
Akhirnya, iring-iringan pengawalan pun memasuki Istana kepresidenan. Namun sayang, Jenderal Soedirman tidak diperkenankan menemui Presiden Soekarno yang saat itu sedang menggelar rapat dengan pejabat menteri di dalam ruang rapat Istana.
"Saat itu, Pak Dirman sempat meminta dipapah keluar bangunan Istana dan berada di taman, menyaksikan pesawat bomber menembak membabi buta. Pak Dirman sempat marah melihat kondisi itu, hingga akhirnya, ia memanggil Noli (panggilan Cokropranolo) kembali menuju Bintaran Timur," jelas Abu.
Saat itu Soedirman meminta Noli untuk kembali ke rumah dinas dan membakar semua dokumen. Selain itu, Noli diminta untuk mengantar istri dan anak-anak Soedirman ke dalam benteng keraton. "Perintah itu kemudian dilakukan Noli dan setelah selesai melakukan tugasnya, Noli kembali dan melapor kepada Pak Dirman. Setelah itu, Pak Dirman memutuskan kembali ke rumah dinas di Jalan Bintaran Timur," ujarnya.
Sesampainya di rumah, Jenderal Soedirman membuat keputusan penting, yakni menyingkir keluar dari kota Yogyakarta bersama pasukan pengawalnya untuk perang gerilya. Keputusan spontan ini membuat kaget beberapa pasukannya. Namun, keputusan tersebut menurut Abu Arifin diterima anggota pasukan yang menjadi pengawal setia Jenderal Soedirman.
"Karena saat itu terdengar kabar, Pasukan Belanda dibagi dua. Kedua pasukan tersebut bertugas menangkap Soekarno dan memerintahkan menangkap Soedirman, baik hidup atau mati," jelas Abu yang mengenakan kacamata.
Sekitar pukul 11.30 WIB pasukan berjalan keluar wilayah Yogyakarta menuju wilayah selatan. Menurutnya, banyak tentara yang tidak membawa bekal perlengkapan. Selain itu, juga banyak dokumen yang dimiliki mereka terbakar untuk menghilangkan jejak. Saat berangkat, jelas Abu, Soedirman menaiki mobil sedan hitam dan mobil compreng.
"Pasukan saat itu menyusuri wilayah selatan Yogyakarta mulai dari Bantul hingga Parangtritis. Saat itu, saya ingat kali pertama istirahat dilakukan di tempat lurah Grogol namanya Pak Hadi. Di rumah Pak Hadi, sambil istirahat, petinggi-petinggi pasukan yang dekat dengan Pak Dirman berkumpul dan membuat rute perjalanan menuju Gunung Wilis di Kediri. Sedangkan Pak Dirman diperiksa denyut nadinya oleh dokter pribadinya, Dokter Suwondo," ujarnya.
Menurut Abu pilihan menuju Gunung Wilis menjadi realistis karena ada perlengkapan komando, yakni pemancar radio. Dari sana, menurut Abu Arifin, semua komando dari Jenderal Soedirman disampaikan melalui pemancar. "Namun itu tidak bertahan lama karena fasilitas pemancar ketahuan Belanda dan akhirnya markas tersebut dibombardir," katanya.
Abu melanjutkan, setelah dari Grogol, pasukan kemudian berjalan menuju Parangtritis. Namun, saat itu dua kendaraan yang digunakan tidak bisa melanjutkan perjalanan karena ada sungai besar yang membelah. "Saat itu, tidak ada jembatan di sungai itu. Saya lupa namanya sungainya apa, tetapi yang jelas semua kendaraan tidak bisa melintasinya. Sejak itu, perjalanan terus dilanjutkan dengan konsekuensi Pak Dirman ditandu," ujarnya.
Perjalanan tersebut, kemudian sampai di Desa Playen yang masih berada di wilayah Yogyakarta. Abu menjelaskan, sesampainya di desa tersebut, Soedirman dipinjami sado milik perkebunan. "Di sana ada sado yang dipinjamkan dari pihak perkebunan dan bisa digunakan untuk Pak Dirman," ujarnya.
Bagi Abu Arifin, sosok Soedirman adalah sosok jenderal pejuang yang sebenarnya. Meski dalam keadaan sakit, Soedirman tetap berjuang demi negaranya hingga titik darah penghabisan. "Mungkin banyak yang bertanya, kenapa Soedirman memilih bergerilya dari pada ditangkap Belanda? Padahal kalau ditangkap Belanda, pasti diperlakukan baik," ujarnya.
Abu menjelaskan, pilihan Soedirman tersebut lebih dikarenakan memegang sumpah jabatan yang diucapkan jenderal besar tersebut saat diangkat menjadi panglima besar kali pertama yang ditulis dalam sumpahnya dan diucapkan dalam lisan. "Dalam salah satu sumpahnya, Jenderal Soedirman menuliskan sanggup bersedia mempertahankan negara Republik Indonesia sampai titik darah yang penghabisan. Sumpah itu kemudian dipegangnya selama menjadi pemimpin pasukan," tutur Abu
20:42
Unknown
Minggu, 06 Oktober 2013, Monas yang berdiri tegak di jantung ibu kota dipadati ribuan pengunjung. Kali ini ada yang berbeda, tidak seperti suasana Monas pada hari-hari biasa. Dari tanggal 3 sampai 7 Oktober ada event pameran Alutsista (Alat Utama Sistem Senjata) TNI, sebagai bagian dari peringatan hari TNI.
Para pengunjung terlihat antusias mengerumuni alat-alat perang yang dipamerkan. Terutama di stand yang memamerkan Tank Leopard 2A4 buatan Jerman dengan kecepatan jelajah 72 KM/jam sebagai persenjataan utama TNI. Pengunjung juga dapat berfoto narsis di tank itu, bahkan bisa naik di atasnya. Merasakan bagaimana gagahnya berpose di alat perang.
1381108196733434386
Anak-anak antusias membaca spesifikasi Tank Leopard
Bukan hanya orang tua yang antusias mengerumuni alat-alat perang TNI yang dipamerkan, tetapi juga anak-anak. Memperkenalkan peralatan perang pada anak bukan berarti menyuruh mereka untuk berperang kelak di saat sudah besar, tapi agar mereka tahu dan melihat sendiri sistem persenjataan yang dimiliki negara kita. Biar mereka merasa aman karena melihat langsung bahwa negara kita mempunyai senjata-senjata hebat (meskipun kebanyakan impoor yaa..). Bagi anak-anak yang memiliki cita-cita sebagai tentara event ini sangat berguna untuk menambah pengetahuan mereka mengenai alat-alat pertahanan.
Perlengkapan persenjataan yang dipamerkan pun beragam, bukan hanya tank Leopard, tetapi juga helikopter tempur, pasukan berkuda, dan terdapat stand mengenai kegiatan yang dilakukan oleh TNI, baik di dalam maupun luar negeri.
Stand yang disesaki pengunjung selain di stand Tank juga di stand Helikopter. Berebut untuk berfoto bersama heli-heli gagah. Selain heli-heli tempur TNI, ada heli United Nation juga yang dipamerkan.
Pengunjung bahkan dapat merasakan langsung berkeliling dengan mobil tempur mengelilingi monas. Untuk berfoto narsis, banyak spot yang dapat digunakan.
Selain menikmati pameran alat-alat perang TNI, pengunjung pun dapat bebas bermain layang-layang di area seputar monas. Namanya juga hiburan, ngajak main anak-anak, selalu dimanfaatkan oleh para pedagang untuk ikut memeriahkan dengan menjual berbagai hal menarik. Layang-layang dengan macam bentuk pun dijual sehingga menambah semarak suasana. Langit di seputaran Monas dipenuhi oleh layang-layang.
20:38
Unknown
Di bawah kepemimpinan Presiden SBY selama 10 tahun terakhir, terlihat peningkatan jumlah dan upaya modernisasi Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) TNI yang cukup signifikan. Rupanya pemerintah masih menginginkan adanya efek penggentar agar wilayah kedaulatan NKRI tidak dengan seenaknya dapat diinjak-injak negara tetangga kita.
Untuk matra udara ada satu Skadron Sukhoi 27 dan 30 beserta amunisi dan Rudal Kh-31P Krypton sudah komplit tergelar di Makassar, sebagian dari 16 Super Tucano sudah tiba, 34 pesawat F-16 Block 32 Upgraded hibah dari Amerika sudah oke, 9 C-295, 4 C 130 H Hecules hibah dari Australia, penambahan helikopter Bell 412, pesawat CN 235, rudal anti serangan udara, sistem Radar, dan terakhir yang baru tiba pesawat jet latih tempur T 50 Golden Eagle.
Sementara untuk matra darat ada penambahan: 100 MBT Leopard, 50 Tank Marder, MLRS Astros II, ATGM, Meriam Caessar 155mm, Rantis Sherpa, Panser Anoa, 12 Helikopter Fennec, MI 35P, MI 17, Rudal anti udara Startreak, rencana pembelian helikopter AH 64 Apache, dan berbagai senapan serbu dan amunisi buatan PT. Pindad tentu membuat taring TNI AD semakin tajam.
Alutsista untuk matra permukaan laut juga terus ditambah dengan: 4 Korvet Sigma, 3 Nakhoda Ragam Class, 1 PKR Sigma 10514, PKR Trimaran KRI Klewang, 4 Heavy Landing Platform Dock Makassar Class, KCR-40 puluhan Fast Patrol Boat, Tank Amphibi, BMP-3, Rudal Jarak Jauh Yakhont dari Rusia, Rudal C-705 buatan Cina, dan lain-lain, termasuk rencana pembelian Korvet La Fayette dari Perancis.
Belakangan terdengar kabar bahwa TNI AL sedang membangun pangkalan khusus untuk kapal selam di Teluk Palu. Kedalaman Teluk Palu yang sampai 400 meter dan letaknya yang terlindung, memang cocok utuk dijadikan pangkalan kapal selam.
Dengan dibangunnya pangkalan kapal selam di Teluk Palu menunjukkan bahwa pemerintah melalui TNI AL yang selama ini terkesan adem ayem hanya mengandalkan 2 unit kapal selam lawas Type 209 butan Jerman Barat yang telah ditingkatkan kemampuannya di Korea Selatan, rupanya tidak tinggal diam.
Kini Indonesia mulai bangkit membangun kekuatan Alutsista bawah air, dimulai dengan pembuatan kapal selam ringan oleh PT. PAL di Surabaya, pembelian 3 buah kapal selam kelas Changbogo dari Korea Selatan, sampai dengan pembelian kapal selam canggih Kilo Class dari Rusia yang kelihatannya masih tersendat karena urusan Transfer of Technology, namun tidak mengapa, yang penting tetap “Tabah Hingga Akhir”
20:34
Unknown
Pengalaman menjadi guru yang paling berharga. Luasnya wilayah Nusantara yang tidak diimbangi dengan kekuatan peralatan tempur udara yang memadai menjadi salah satu faktor munculnya kasus Ambalat.
Guna mencegah terjadinya kasus serupa, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara berencana menambah skuadron di Pekanbaru, Riau, dan Biak, Papua, untuk melengkapi kekuatan pengawasan wilayah teritorial Indonesia.
Hal ini seiring bertambahnya jumlah pesawat tempur F-16 dalam program Minimum Essential Force (MEF). Kepala Pusat Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Suyadi Bambang Supriyadi mengatakan rencana penambahan skuadron ini untuk memperkuat pengawasan di wilayah barat dan timur Indonesia dari ancaman luar.
Penambahan skuadron ini dinilai cukup penting mengingat luas wilayah Tanah Air dan banyaknya daerah perbatasan dengan negara lain. Sistem pengawasan wilayah teritorial Indonesia beda dengan negara lain karena merupakan negara kepulauan.
"Kalau negara lain mengawasi daerahnya sendiri. Kalau negara kita ya mengawasi kayak kawasan Asean,” ujar Suyadi kepada detikcom kemarin.
Suyadi menekankan, penambahan alat utama sistem persenjataan (Alutsista) bukan alasan mengikuti negara lain. Namun, lebih untuk tujuan kekuatan pertahanan nasional yang punya wilayah sangat luas.
Ia mengaku optimistis soal sasaran pemerintah terkait target program MEF selesai pada 2019 dari yang sebelumnya 2024. Namun, meski diharapkan bisa selesai 2019, bukan berarti ada pengurangan armada alutsista yang baru.
“Ini kan soal perbandingan dengan luas wilayah. Itu tidak boleh dikurangi. Kalau begitu, nanti negara lain akan main-main dengan kita. Kayak kasus Ambalat karena dia tahu dulu kita masih minim kekuatan alutsista pesawat tempur,” katanya menegaskan.
Pengamat militer dari Universitas Indonesia Andi Wijayanto menilai upaya modernisasi alutsista TNI sudah terbilang baik. Mengacu pada target pencapaian kekuatan pokok minimum MEF 2024, modernisasi yang sudah dilakukan pemerintah sudah di atas target. "Hal ini karena penambahan anggaran pengadaan alutsista Rp 149 triliun untuk 2010-2014," ujar Andi kepada detikcom kemarin.
Angkatan Udara Indonesia sempat menjadi anak emas Presiden Sukarno karena memiliki pesawat tempur tercanggih di zamannya. Sehingga muncul ungkapan 'AURI, anak lanang Bung Karno'.
Kurun waktu 1960-an kekuatan Angkatan Udara Indonesia sempat membuat gentar negara tetangga di kawasan Asia Tenggara dan Australia. Saat itu kesatuan dengan semboyan 'Swa Bhuwana Paksa', atau sayap pelindung angkasa nusantara itu telah memiliki pesawat jet pembom stategis Tu-16 dan Tu-16 KS.
Pesawat Tu-16 memiliki jangkauan terbang hingga 7200 kilo meter, kecepatan mencapai 1050 kilometer per jam, dengan ketinggian terbang hingga 39400 kaki. Pesawat ini mampu membawa muatan bom seberat 9 ton.
Tak hanya pesawat pembom, Indonesia juga memiliki pesawat sergap tempur. Padahal saat itu negara-negara besar seperti Cina, India, dan Australia saja belum memiliki pesawat pembom strategis atau jet tempur.
Seolah ingin mengulangi kejayaan itu, kini pemerintah memprioritaskan belanja alat utama sistem persenjataan (alutsista) untuk Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara.
Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Sisriadi Iskandar mengatakan, alutsista TNI AU diprioritaskan mengingat posisi Indonesia yang merupakan Negara kepulauan.
“Dalam perang modern penggunaan wahana udara semakin tinggi. Orang bebas bergerak dan bertempur di udara. Sehingga sebagai Negara kepulauan yang luasnya begini, kekuatan udara dan laut kita harus dibangun kuat,” kata Sisriadi kepada detikcom, Selasa (8/10) lalu.
Sebagai Negara kepulauan menurut dia kekuatan maritim Indonesia harus kuat. Penopangnya adalah Angkatan Laut dan Angkatan Udara.
Alutsista TNI AU yang sudah didatangkan antara lain unit pesawat temput Sukhoi 27 MK-2 di Makassar, skuadron F16 di Madiun.
Bentuk modernisasi lainnya antara lain pesawat angku CN 295, dan pesawat angkut Hercules C-130 H. “Pesawat angkut Herculesnya akan nambah lagi, sebagian sudah datang dan sebagian masih ada yang dalam proses produksi,” tambah Sisriadi.
Kini sejak modernisasi alutsista TNI mulai dilaksanakan, gangguan keamanan oleh pihak asing terhadap Indonesia hampir tidak ada.
“Sekarang tak banyak lagi (gangguan), tidak ada mungkin. Dulu pas zaman tidak enak, antara 2002-2003 itu (ada gangguan),” kata Sisriadi.
Tak hanya alutsista, kemampuan prajurit kini juga terus ditingkatkan. Hasilnya dalam ajang Pitch Black di Darwin, Australia tahun lalu misalnya.
Pilot-pilot Sukhoi Indonesia mampu mengimbangi kemampuan armada pesawat tempur negara maju, seperti Amerika, Singapura, dan tuan rumah Australia.
Kekuatan TNI AU kini telah kembali diperhitungkan oleh negara-negara tetangga. Si 'anak lanang Bung Karno' itu kini mulai kembali.
20:31
Unknown
Cepat Atau Lambat TNI Akan Menjadi Macan Asia
Pada kurun waktu tahun 1960-an kekuatan Tentara Nasional Indonesia sempat menggetarkan Asia. Namun sempat tak terdengar lagi pada masa Orde Baru. Kini setelah lepas dari politik, TNI terus berbenah.
Salah satunya dengan modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista). Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Sisriadi mengatakan, pembelian alutsista tersebut diarahkan untuk memenuhi Minimum Essential Forces (MEF), atau kekuatan pokok minimum.
MEF yang disusun sejak 2007, terbagi dalam tiga rencana strategis hingga tahun 2024. “Jadi MEF ini bukan rencana mendadak,” kata Sisriadi kepada detikcom, Selasa (8/10) lalu.
Ada tiga komponen postur, yakni kekuatan, gelar (persebaran penempatan), dan kemampuan. “Untuk dukung kemampuan itu, yang dibangun adalah kekuatan daya tembak, daya gerak atau manuver,” tambah Sisriadi.
Pengamat militer dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Jaleswari Pramodawardhani mengatakan, jika tiga rencana strategis itu ditepati, kekuatan TNI bisa menjadi yang terkuat di Asia.
“Bukan tak mustahil macan Asia akan kita raih kembali pada 2024,” kata pengamat yang biasa dipanggil Dhani ini kepada detikcom, Selasa (8/10) lalu.
Sementara pengamat militer dari Universitas Indonesia Andi Wijayanto menilai modernisasi alutsista TNI sudah baik. Bahkan jika mengacu pada target MEF 2024, modernisasi yang sudah dilakukan pemerintah sudah di atas target.
Modernisasi alutsista untuk memperkuat kesatuan itu, juga diikuti dengan pengembangan kemampuan prajurit. Pengadaan senjata dilakukan dengan pendekatan lifecycle, yakni pendekatan hidup penuh, mulai dari desain hingga nanti alutsistanya ingin dibuang karena sudah tua.
Memang beberapa alutsista yang dibeli tidak sesuai perencanaan awal, meski ada dalam renstra 2024. Dari segi waktu, pembelian alutsista tersebut ada yang tergeser, baik lebih cepat atau justru ditunda dari rencana semula.
MBT Leopard yang dibeli dari Jerman, misalnya. Ternyata tank kelas utama ini tidak ada dalam perencanaan hingga 2019. “Harusnya baru 2024 baru ada Leopard,” kata Andi.
Meski tak sesuai perencanaan, namun pemerintah memang harus menyesuaikan dengan kondisi pasar senjata.
“Eropa Barat tidak lagi mengandalkan Kavaleri berat dalam sistem pertahanannya, maka tank kelas utama seperti Leopard itu tersedia di pasaran dalam jumlah besar. Peluang itu yang dimanfaatkan pemerintah,” kata dia.
HUT TNI ke-68 pada 5 Oktober tahun ini ditandai kado istimewa dengan telah berdatangannya beberapa alutsista baru melengkapi kekuatan TNI AD, TNI AL, dan TNI AU. Upaya pemerintah menggelontorkan anggaran untuk memperkuat alutsista yang dibutuhkan ketiga matra TNI ini patut diberi acungan jempol dan dukungan. Bagaimana pun Tentara Nasional Indonesia membutuhkan alutsista-alutsista yang sesuai dengan perkembangan zaman, selain pengembangan sumber daya manusia yang harus terus ditingkatkan.
Khusus TNI AU, datangnya pesawat EMB-314 Super Tucano yang menggantikan OV-10F Bronco di Skadron Udara 21, lalu CN295 yang menggantikan Fokker 27 di Skadron Udara 2, pesawat Latih Dasar Grob G 120TP-A yang akan menggantikan pesawat AS-202 Bravo dan T-34C Turbo Mentor di Skadron Pendidikan 101, merupakan bagian dari pesawat-pesawat baru yang dibeli Indonesia dan telah datang secara bertahap.
Selain itu penambahan pesawat tempur Su-27SKM dan Su-30MK2 sehingga Skadron Udara 11 genap memiliki 16 unit Su-27/30 berikut persenjataan lengkapnya, menjadikan Skadron Udara 11 makin bergigi dan diperhitungkan negara-negara tetangga. Sementara rencana penambahan sembilan pesawat C-130H Hercules bekas pakai AU Australia untuk persiapan Skadron Udara 33 di Makassar diharapkan makin menambah kekuatan unsur pesawat angkut di wilayah Timur dan memenuhi kebutuhan dukungan pergerakan pesawat tempur, personel, maupun logistik latihan, masih ditunggu proses realisasinya. Demikian juga dengan pembelian helikopter Cougar yang akan dibuat oleh PT Dirgantara Indonesia akan meningkatkan kekuatan skadron sayap putar.
Sedangkan pembelian 24 F-16C Block 32+ yang dijadwalkan mulai mengisi Skadron Udara 16 di Pekanbaru tahun depan, akan melengkapi kekuatan tempur di wilayah Barat dan Tengah yang saat ini ditopang oleh dua skadron pesawat Hawk 109/209, yakni Skadron Udara 12 di Pekanbaru dan Skadron Udara 1 di Pontianak. Di wilayah Barat, TNI AU juga sedang mempersiapkan skadron intai baru yang akan diisi oleh pesawat CN235-200 MPA buatan PT Dirgantara Indonesia.
Dalam rencana ke depan, TNI AU juga akan mengganti pesawat F-5 Tiger II Skadron Udara 14. Beberapa pesawat sedang dalam tahap penjajakan pengkajian sehingga diharapkan nantinya didapatkan pesawat pengganti yang sesuai dan kapabilitasnya tinggi. Sementara pesawat tempur IFX yang dikerjasamakan produksinya dengan Korea Selatan, masih menunggu kelanjutan prosesnya terkait kebijakan pemerintahan baru di negeri itu.
Elang Emas
Tanggal 11 September lalu, dua unit Elang Emas T-50i tiba di Lanud Iswahjudi, Magetan, Jawa Timur setelah melakukan penerbangan feri dari pabriknya, Korean Aviation Industries (KAI), di Sacheon, Gyeongsang, Korea Selatan. Penerbangan melalui Kaohsiung (Taiwan), Cebu (Filipina), serta Balikpapan, Kalimantan Selatan. Sebelum mendarat di sarangnya kedua pesawat yang diterbangkan oleh empat pilot uji KAI, Kwon Huiman, Lee Dong-kyo, Kang Cheol, dan Shin Donghak itu disambut oleh dua Hawk Mk.53 dengan callsign Hawk Flight di East Area Iswahjudi Aerodrome yang diterbangkan oleh Komandan Skadron Udara 15 Letkol Pnb Wastum beserta Mayor Pnb Hendra dan Kapten Pnb Gultom beserta Lettu Pnb Yudistira.
Setelah mendapat pengawalan dan penyambutan kehormatan, kedua Elang Emas join up dengan “saudara tua”-nya membentuk formasi kotak dipimpin flight leader Komandan Skadron Udara 15. Di bawah, Pangkoopsau II Marsda TNI Agus Supriatna, Danlanud Iswahjudi Marsma TNI Yuyu Sutisna, Vice Presiden KAI Kim Kyuhak, dan segenap pejabat TNI/Polri serta Muspida se-Karesidenan Madiun telah menunggu. Suasana riuh terdengar manakala pesawat bercat biru kuning T-50 dan abu-abu Hawk Mk.53 tampak dalam pandangan mata, melakukan flypass dua kali di atas hanggar Skadron Udara 15 dari arah yang berbeda.
Indonesia menjadi pengguna pertama T-50 di luar Korea Selatan. Pesawat yang tampilannya mirip dengan F-16 Fighting Falcon ini dikembangkan bersama oleh KAI dan Lockheed Martin, AS pembuat F-16. Indonesia membeli 16 unit T-50i dimana delapan unit diberi cat aerobatic painting dan delapan lainnya diberi cat camouflage painting.
Subscribe to:
Comments
(
Atom
)










