Thursday, 19 December 2013



Menteri Pertahanan RI Purnomo
Yusgiantoro mengatakan, Indonesia
tidak mengincar sistem peluru
kendali jarak jauh yang dapat
menjangkau antarbenua. Indonesia
justru ingin membangun sistem
peluru kendali jarak menengah yang
bisa menembakkan rudah berjarak
150-300 kilometer.

“Peluncur peluru kendali antarbenua
tidak masuk dalam agenda
Indonesia. Keinginan Indonesia
tidak muluk-muluk,” kata Purnomo
usai menerima kunjungan Menteri
Pertahanan China Jenderal Chang
Wanquan di Gedung Kementerian
Pertahanan, Jakarta. Senin 16
Desember 2013.

Purnomo menyatakan, saat ini
kementeriannya tengah membahas
pembelian kapal selam jenis Kilo
dan Amur dari Rusia. Kemenhan
juga sudah menyetujui kemungkinan
penggunaan rudal Club S, yakni
rudal antikapal jarak jauh yang
diluncurkan dari bawah permukaan
air. Jenis peralatan tempur ini
termasuk kategori misil pembunuh
yang mempunyai jarak tembak
hingga 400 kilometer.

Rudal Club S itu akan melengkapi
rudal lainnya yang telah
dioperasikan oleh TNI AL, yaitu
Yakhont. Kemampuan rudal Yakhont
dapat menempuh jarak hingga 200
kilometer.
“Yang kami bangun saat ini yaitu
kemampuan peluru kendali yang
bisa mencapai 100, 150, 200, 250,
dan 300 kilometer, apakah itu
dilemparkan dari kapal selam atau
pesawat tempur,” kata Purnomo.

Transfer teknologi rudal
Untuk kerjasama militer dengan
China, Purnomo mengatakan saat ini
Indonesia tengah membahas
mekanisme transfer teknologi Rudal
C-705 yang akan digunakan oleh
Angkatan Laut Indonesia. Rudal
C-705 ketika diluncurkan dapat
menempuh jarak 150 kilometer.
Ini merupakan bagian dari kerjasama
industri pertahanan kedua negara.
Kerjasama itu tertuang dalam nota
kesepakatan yang ditandatangani
Wakil Menteri Pertahanan dan
Kepala Badan Pengembangan
Teknologi dan Industri Nasional
Pertahanan Cina.

Dalam nota kesepakatan itu,
disepakati lima hal pokok, antara
lain pembelian senjata tertentu
harus dilakukan antarpemerintah
atau Government to Government.
Selanjutnya, alih teknologi peralatan
militer tertentu mencakup perakitan,
pengujian, pemeliharaan, modifikasi,
upgrade, dan pelatihan.

Selain itu ada pula produksi dan
pemasaran bersama atas produk
persenjataan tertentu yang
disepakati antara lain rudal kendali
C-705. Kesepakatan pembuatan
rudal tersebut dibahas ketika digelar
pertemuan di Beijing antara
perwakilan Kemhan kedua negara
pada tahun 2012.


Saat itu disepakati pembuatan
bersama rudal antikapal C-705 akan
direalisasikan oleh Kemhan serta
Badan Ilmu Pengetahuan Teknologi
dan Industri Pertahanan Negara
(SASTIND) China.

Bentuknya lebih menyerupai
miniatur C-602. Pengembangan
rudal baru ini fokus ke tiga hal,
yakni elemen mesin, hulu ledak, dan
sistem pemandu. Desain modular
dari mesin baru meningkatkan
jangkauan rudal yang sebelumnya
75-80 kilometer menjadi hingga 170
kilometer, dengan jarak efektif 140
kilometer jika didukung sistem
targeting di balik cakrawala (OTHT).

C-705 dipersiapkan untuk
mengandaskan kapal perang lawan
yang berbobot hingga 1.500 ton
(kelas light corvette). Daya hancur
yang dihasilkan rudal C-705 bisa
mencapai 95,7 persen, ideal untuk
menenggelamkan kapal. ( VIvaNews)

Sahabat Itu Gak Pake Embargo

0 comments :

Post a Comment